Senin, 09 Maret 2015

Pengenalan Dry Cupping



Teknik Bekam (Cupping) sering disebut juga dengan kop adalah salah satu teknik penarikan permukaan kulit yang dikembangkan dari teknik sistem kinerja bekam api (pemanasan Cup dengan api). Pada awalnya hanya digunakan untuk mengeluarkan “Angin” pada tubuh.  

Dalam ilmu pembekaman terdapat pembagian 2 jenis bekam dan fungsinya yaitu:

1. Bekam Kering (Dry Cupping) INSERT IMAGE


Bekam kering
adalah pembekaman yang dilakukan tanpa melukai kulit atau mengeluarkan darah dari dalam kulit. Fungsi metode ini untuk relaksasi, detoksifikasi.
2. Bekam Basah (Wet Cupping)
INSERT IMAGE

Bekam basah
adalah pembekaman yang dilakukan dengan melukai kulit atau mengeluarkan darah. Fungsi metode ini kotoran atau toksin dalam darah dapat langsung di keluarkan.

Berikut ini adalah Standar Operasional Bekam (sumber google)

SOB inilah yang harus di pahami oleh setiap terapis bekam ataupun pasien yang akan di bekam. mudah-mudahan dapat bermanfaat tulisan ini... (sumber google)

Setelah mengetahui jenis dan perbedaan teknik Cupping, sekarang kita kembali pada pembahasan yang sesuai dengan Tema.

Dry Cupping dari awal pembahasan artikel kita sudah tahu bahwa terlalu dini jika bekam hanya bisa digunakan untuk mengeluarkan angin saja.
Dry Cupping (bekam kering) Tehnik ini dikerjakan tanpa adanya perlukaan (Melukai Permukaan Kulit) dan pengeluaran darah. Menurut kinerjanya dibagi menjadi 2 yaitu :
- Bekam (Diam)
INSERT IMAGE

- Bekam (Bergerak).


Ada beberapa bentuk alat bekam beserta fungsinya, biasanya kita menggolongkannya menurut bentuk dan diameternya saat melakukan proses terapi. 
 
 
Reaksi pigmen pada kulit bekas bekam adalah sebagai berikut:

INSERT IMAGE

1.      Ungu kegelapan atau hitam, pada kebiasaanya hal ini menandakan (kekurangan) saluran pembekal darah dan saluran (pembuluh) darah yang tidak lancar yang disertai dan terdapatnya darah beku.
2.      Ungu disertai plaque (berbintik-bintik), pada kebiasanya ia menandakan terjadinya gangguan/ kelainan gumpalan darah yang berwarna keunguan dan adanya darah beku.
3.      Bintik-bintik ungu yang tersebar dengan warna yang berbeda (gelap/pekat dan ada yang ungu muda). Hal ini menandakan kelainan “Qi” dan darah beku.
4.      Merah cerah, biasanya menunjukkan terjadinya defisiensi “Yin”, defisiensi “Qi” dan darah atau rasa panas yang dahsyat yang diinduksi oleh defisiensi “Yin”.
5.      Merah gelap, menandakan kondisi lemak di dalam darah yang tinggi disertai dengan adanya panas patogen.
6.      Bekas bekam yang muncul berwarna agak pucat/putih dan tidak hangat ketika disentuh, menandakan terjadinya defisiensi cold (dingin) dan adanya gas patogen.
7.      Adanya garis-garis pecah/ruam pada permukaan bekas bekam dan rasa sedikit gatal, ia menandakan kondisi adanya wind (lembab) patogen dan gangguan gas patogen.
8.      Munculnya uap air pada dinding bahagian dalam gelas bekam, menandakan kondisi adanya gas-gas patogen pada kawasan tersebut.
9.      Blister (lepuhan/lecat) pada bekas bekam, menggambarkan keadaan gangguan gas yang parah pada tubuh. Adanya darah tipis pada blister merupakan reaksi gas panas toksin.

Reaksi tersebut menyebabkan terjadinya perbaikaan mikrosirkulasi pembuluh darah yang memicu timbulnya efek relaksasi, serta efek yang akan menurunkan tekanan darah secara stabil. Proses ini juga akan memicu fungsi pembentukan dan pengaktifan daya imunitas tubuh. Inilah efek kimia tubuh setelah dilakukan pembekaman.